Sunday, October 20, 2019

Nilai Luhur di Balik Gunungan Prosesi Grebeg Besar

Grebeg atau disebut pula gerebeg merupakan suatu perayaan penting dalam masyarakat Jawa. Umumnya grebeg dilaksanakan untuk merayakan hari-hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, Suro (Tahun Baru Penanggalan Jawa), dan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam grebeg, salah satu prosesi penting dan ditunggu oleh banyak orang adalah arakan gunungan yang kemudian dibagi ke masyarakat.

Di Solo misalnya Keraton Surakarta Hadiningrat menyelenggarakan grebeg besar untuk memperingati Idul Adha, Sabtu (2/9/2017). Masyarakat tampak antusias untuk berebut gunungan yang diarak oleh pasukan keraton.

"Selepas upacara gerebeg sekatenan berlangsung seminggu, tepat 12 Rabiul Awal, diadakan upacara grebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Gunungan dibuat beberapa hari sebelum perayaan Grebeg Mulud oleh abdi dalem khusus yang ditunjuk oleh Sinuhun," sebut Dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Priyatmoko saat dihubungi KompasTravel, Senin (4/9/2017).

Uniknya gunungan dalam grebeg besar Keraton Surakarta Hadiningrat terdiri dari dua jenis, yakni gunungan kakung (laki-laki) dan gunungan putri (perempuan). Gunungan tersebut menurut Heri nemiliki berbagai makna di baliknya.

"Bentuk gunungan kakung dihubungkan dengan lingga atau alat vital laki-laki yang mengacu pada nilai-nilai kehidupan yang menggambarkan adanya proses penciptaan manusia atau dihubungkan dengan asal-usul manusia," tulis Heri.

Gunungan kakung juga melambangkan kesuburan, sifat baik, juga menggambarkan tentang dunia dan isinya yang mencakup berbagai unsur di dalamnya.

Berbeda dengan gunungan kakung, gunungan putri justru melambangkan sifat buruk dan perusak. Sehingga keduanya harus disatukan.

No comments:

Post a Comment