Bagi para turis yang menggemari kekayaan budaya, Iran merupakan negara yang wajib dikunjungi. Peradaban Persia yang berusia kurang lebih 7 ribu tahun menyebabkan Iran begitu dilimpahi kekayaan budaya.
Terlebih, mirip seperti Indonesia, Iran juga terdiri dari berbagai suku yang masing-masing berlainan adat-istiadat, mulai dari pakaian sampai kuliner. Kini, meskipun modernisasi juga berlangsung di Iran, namun unsur-unsur tradisional sanggup berjalan seirama.
Tradisi setiap suku berbeda, bahasanya pun beda. Ada pakaian-pakaian tradisional yang masih dipakai oleh suku tertentu, misalnya Baluchistan. Mereka mengenakan pakaian tersebut bukan karena menyambut festival budaya saja, jelas Konselor Kebudayaan Kedubes Republik Islam Iran di Jakarta, Mehrdad Rakhshandeh kepada KompasTravel Senin (18/2/2019).
Mehrdad menjelaskan, pemerintah Iran memang juga menggelar semacam festival budaya tahunan. Namun, di luar festival tersebut, tradisi di Iran tetap berlangsung sehari-hari.
Hal ini membuktikan bahwa penduduk Iran betul-betul melestarikan nilai-nilai tradisionalnya, bukan semata merawat situs-situs peninggalan sejarahnya saja.
Selain itu, di kalangan turis, penduduk Iran dikenal ramah terhadap tamu, dalam hal ini turis mancanegara. Mereka pun tak akan sungkan berbicara dengan bahasa asing, baik Arab maupun Inggris.
Kami tidak punya kebiasaan tertentu yang harus dipatuhi oleh turis. Kami malah ingin menyelaraskan dengan kebiasaan si turis, sebagai penghormatan terhadap mereka. Kami menghormati kebiasaan mereka, tambah Mehrdad ketika ditemui di Pameran Seni dan Budaya Iran di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta.Sifat ramah ini juga menular pada keamanan berkunjung ke Iran. Kendati negara ini dipagari oleh beberapa negara yang tengah digoyang konflik seperti Irak dan Afghanistan, tetapi Iran sanggup menjadi negara ke-6 teraman di dunia.
Di sisi lain, perlu dicatat jika Iran merupakan negara Islam yang menerapkan peraturan syariah. Sehingga, terdapat beberapa peraturan agama yang telah dimuat sebagai peraturan negara.
Mengenakan kerudung bagi turis wanita, misalnya, bukan lagi dianggap sebagai kebiasaan, melainkan hukum negara.
Terkait hijab, anggaplah itu cara turis menghargai peraturan negara yang berlaku buat orang Iran maupun bukan. Namun, kami tidak akan mempersulit turis, yang penting pakai penutup kepala, jelas Mehrdad menjelaskan.
No comments:
Post a Comment